Konon merk besar digarap disebuah garasi seperti Facebook kini menjelma menjadi metaverse Instagram WhatsApp dan Threads. Merk besar perusahaan teknologi bukan dirancang dalam sekejap, ia adalah proses penuh sematjam investasi jadi atau buntung. Ekosistem ini mendekati sematjam sesempurna mungkin, Facebook semula dirancang memudahkan komunikasi sesama mahasiswa satu kampus.
Berkembang dan menjadi raksasa dengan mentjaplok Instagram WhatsApp dan Threads. Pilihan akhirnya kepada pengguna memakai keempatnya atau suka suka.
Mungkin ini bisa menjadi penantang dominasi google dengan berbagai feature yang dimiliki Gmail,Blogger,Google Drive bahkan OS Android. Diluar itu ada X dan Telegram dengan berbagai keunggulan dan kelemahan.
Bagaimana dengan Yahoo, konon perlahan kurang populer atau kurang inovasi. Ini peluang sekaligus tantangan bahwa merk dagang bukan sesuatu yang abadi. Ia berproses seturut kreatifitas dan ikut perubahan, sebab teknologi terus berkembang dan tumbuh subur.
Sebagaimana sejarah tentang peradaban maka periodesasi perkembangan
Islam adalah Jazirah Arab yang dengan segala aspek budaya dan tradisinya. Maka periodesasi yang paling menentukan adalah ketika persinggungan
dengan para pedagang di nusantara dengan beragam budaya dan tradisinya .
Diaspora atau penyebaran oleh pedagang dan guru tarekat / mursyid
berkembang secara dinamis lantaran penduduk nusantara sudah mengenal
Tuhannya sejak jaman purwakala.
Dari sini kiranya dapat kita tarik
benang merah betapa sebagai bangsa yang religius kita sudah sejak lama
menjunjung tinggi demokrasi dalam segala bentuk peradaban. Sekalipun
kenyataannya kita dikuasai oleh hampir ratusan kerajaan atau kesultanan ,
namun ghirah / semangat demokrasi itu sudah nampak .
Menarik untuk menjadi bahasan adalah sumbangsih yang sangat berarti
tentang kebhinekaan kita. Berbeda namun tetap satu jua, sebenarnya ini
adalah ambiguitas sebagai sebuah bangsa, namun dipersatukan mungkin
oleh nasib saling menderita. Pada periodesasi perkembangan Islam di
nusantara para penyebarnya terutama di Jawa dengan sentral 9 wali.
Maka
proses akulturasi berjalan sangat progresif dan mungkin juga
revolusioner. Bisa dilihat dari semula kerajaan bercorak Hindu-Budha
beralih ke kerajaan / kesultanan. Bisa juga dimaknai sebagai proses
demokrasi karena para raja atau bangsawan beralih secara sukarela tanpa
paksaan. Kita juga tahu bahwa di India sekalipun dinasti Jehan sekian
abad berkuasa namun di India, Hindu tetap sebagai agama dengan pemeluk
mayoritas. Mungkin ini juga sesuai dengan konsep negara modern dimana
Nabi memimpin tidak hanya umat Islam namun juga Kristen ,Yahudi juga
Zoroaster di Madinah.
Kembali tentang konsep demokrasi dalam Islam adalah teladan seperti
Nabi yaitu penguasa atau pemimpin dihasilkan melalui musyawarah atau
kesepakatan bersama. Di jaman modern ini mungkin hanya Swiss dan Swedia
yang masih menerapkan model konsensus untuk tujuan kebaikan bersama .
Di nusantara malah terjadi proses sebaliknya dengan model pemilu
langsung untuk memilih wakil di parlemen maupun eksekutif. Bahkan
terjebak dengan semangat pemberangusan terhadap tradisi , menjadi contoh
pasar tradisional dirobohkan di ganti dengan mall.
Lebih ironi lagi
pelaksanaan demokrasi jauh dari semangat kebangsaan tentang prinsip
dasar kebhinekaan yaitu Pancasila dan UUD 1945, maka kiranya perlu
menjadi tinjauan bersama mengenai demokrasi kita. Bahwa Islam dan
segala aspeknya menghendaki kebaikan bersama semuanya juga sebagaimana
demokrasi dicetuskan. Pembaca yang terhormat kiranya sudilah untuk
menilai memberi nilai dan menyimpulkan tentang semangat Islam dan
Demokrasi, terutama menuju bangsa yang majemuk dengan tetap menjunjug
tinggi budaya yang luhur. (Salam)