Sebermula
adalah kata, terjalin rangkaian kata menjadi kalimat. Berjilid-jilid
menjadi aneka warna karya, kedaulatan ada ditangan penulis dan pembaca.
Maka berbicaralah sang pujangga, ada kalanya hidup manusia diliputi
kesenangan akan dunia. Juga sebaliknya kesedihan merundung kehidupan
manusia. Sang bijak bestari berkata semua ada hikmahnya, karena hampir
tidak ada ciptaanNya yang sia-sia. Kita manusia diberikan akal pikiran
agar bisa mendekat kepadaNya. Maka manusia haruslah menggapainya
dengan sultan (ilmu) untuk menjangkaunya.
Masalah kontemporer hari
ini adalah galau, hampir menghinggapi seluruh lapisan manusia, tua
muda kaya miskin. Mengapa sebagai hamba yang beriman dan berilmu kita
masih galau? Sumber yang utama adalah diri sendiri sebelum kita melihat
keluar. Bertanyalah pada hatimu, berpikirlah sejernih mungkin. Maka
akan kau dapati bahwa manusia adalah sarang kedhaifan serba ternoda
salah dan lupa.
Dibutuhkan usaha yang sungguh-sungguh untuk mencapai
kejernihan berpikir dan bertindak. Upaya yang berkesinambungan dan
penuh pengabdian pada kemanusiaan yang adil dan beradab, tidak terhenti
pada kebijakan-kebijakan kata-kata tetapi implementasi. Wujud riil
atas amanat rakyat menuju negeri gemah ripah lohjinawi toto tentrem
kerto raharjo baldatun thayibatun ghafurur rahim.
Bahwa atas berkat
Allah yang maha kuasa dan dengan dorongan cita-cita luhur maka dengan
ini menyatakan kemerdekaannya. Bangsa ini sudah lepas dari penjajahan
tradisional namun masih terjebak kearah mana bangsa akan dibawah kalau
masalah kemajemukan tak segera teratasi. Kalau hal ini benar maka para
pemimpin sedang galau dan mereka masih bermimpi mewujudkan negara
sejahtera. Padahal disudut sana bung Akbar sudah bosan mbecak di Jtv,
ia memutuskan pindah saluran menjadi comic di stasiun nasional.
Humor
adalah soal selera namun keterlaluan jika pelaku humor adalah pengambil
kebijakan tinggi, lha rakyatnya mau ketawa dengan cara apa?! Wong
mereka sudah ngenes dengan persoalan sehari-hari. Memang benar
kebahagiaan ada dihati bukan berupa materi, namun mau bahagia bagaimana
kerja tak dapat. Sementara kaleng susu bertalu-talu laksana gendang
nusantara memanggil-manggil anak nusantara jangan menyusu pada ibumu.
Lha ini celaka namanya kedaulatan ibu direnggut paksa oleh sebuah
kampanye internasional "Gantilah susu ibu dengan susu kaleng maka kau
akan lebih sehat dan menaikkan gengsi daripada ibu dan bayi." Menyusui
adalah kegiatan purba manusia sebelum bayi mengenal beras bahkan
hari-hari ini dijejali produk yang katanya sanggup membawa si bayi
berpikir cerdas nakal dan radikal, atau jangan-jangan awal teroris dari
sini juga ya? Karena bayi telah lepas dari kasih sayang ibunya, dijadikan robot oleh kapitalisme mutakhir.
Jangan-jangan cyborg juga
sudah berkembang biak lantaran hari ini kita tak peduli lagi pada
tradisi, semua serba instan. Perguruan tinggi instan, rumah sakit
instan, bupati walikota presiden. Juga dalam pikiran nakal bahwa
penguasa langit dan bumi jangan-jangan juga dijadikan instan oleh
hambaNya. salam
Malang,290512
sekedarnya saja